Tugas
Mata kuliah : Teknologi Bahan
Dosen :
Ir. H. Sumirin, MS
PROPOSAL
PENGEMBANGAN
BETON PRACETAK
Di Susun Oleh
SAKTRIA WIRAWAN
MTS 11.19.3.0414
PROGRAM MAGISTER
TEKNIK SIPIL
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan peradaban manusia saat ini
membuat tuntutan akan kebutuhan masyarakat semakin meningkat dan bervariasi, kebutuhan
itu dapat berupa kebutuhan akan sandang, pangan, papan serta kebutuhan yang
sifatnya prestise. Pemenuhan akan kebutuhan itu tidak hanya sekedar pada
pemenuhan dari segi ketersediaan belaka tapi lebih dari itu, pemenuhan akan
kebutuhan diatas harus ditinjau juga dari segi kualitas yang baik, dan
standarnya terus meningkat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi saat ini.
Kebutuhan
akan bangunan dan fasilitas merupakan salah satu kebutuhan manusia yang saat
ini terus meningkat dengan
permintaan akan daya tahan bangunan dan fasilitas yang baik merupakan hal yang tidak
bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini dan
tentunya menjadi hal yang mesti dipenuhi dengan persediaan dan perkembangan bahan-bahan
bangunan yang memiliki struktur yang kuat, mudah di buat dan didapatkan serta
dengan biaya atau harga yang terjangkau, biaya perawatan yang tidak begitu
besar.
Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang
paling banyak digunakan dalam suatu konstruksi bangunan, hal ini dikarenakan bahan-bahan
dasar pembuatan beton seperti air, semen, pasir dan agregat kasar mudah
ditemukan, selain itu beton mudah di buat dan dibentuk sesuai dengan keinginan
dan juga karena beton merupakan bahan konstruksi yang awet dan tahan lama dan memiliki
kuat tekan yang tinggi.
Dalam
perkembangannya beton juga mengalami banyak modifikasi dan perbaikan sehingga
tercipta berbagai macam jenis beton yang peruntukkannya disesuaikan dengan
makin beragamnya permintaan atau kebutuhan masyarakat akan jenis beton sebagai
bahan konstruksi yang populer saat ini, dan salah satu jenis beton tersebut
adalah beton pracetak.
Pracetak dapat diartikan sebagai proses produksi
elemen struktural bangunan pada suatu tempat atau lokasi yang berbeda dengan
tempat atau lokasi dimana elemen struktur itu akan digunakan, teknologi
pracetak ini dapat dilakukan pada berbagai material dan salah satu diantaranya
adalah beton.
Beton pracetak merupakan beton yang dibuat dengan
metode percetakan secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop dan dipasang
setelah beton cukup umur. Penggunaan beton pracetak ini di anggap lebih
ekonomis dibandingkan dengan pengecoran langsung ditempat dengan alasan dapat
mengurangi biaya pemakaian bekisting, mengurangi biaya upah pekerja karena
penggunaan tenaga kerja yang lebih sedikit serta dapat menjadikan waktu
pelaksanaan proyek menjadi lebih singkat.
Dewasa ini penggunan beton pracetak semakin meningkat dan
telah digunakan secara meluas pada elemen-elemen struktur bangunan seperti
kolom, balok dan lantai. Banyak juga di jumpai dinding penahan (retaining wall) serta saluran irigasi
dan drainase yang terbuat dari beton pracetak.
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh beton pracetak seperti mutu
yang terjaga serta dapat diproduksi massal menjadikan kebutuhan akan
ketersediaan beton pracetak ini makin meningkat, peningkatan permintaan akan
ketersediaan beton pracetak yang dapat diaplikasikan pada berbagai elemen
bangunan terutama pada bangunan-bangunan
tinggi dan fasilitas atau infrastruktur seperti jembatan, jalan layang dengan
bentang yang lebar dan panjang.
Hanya saja, disamping keunggulan dari beton pracetak
ini terdapat pula beberapa kekurangan terutama dalam hal pengangkutan dan
distribusi dari lokasi produksi ke lokasi dimana beton akan digunakan, dimana
untuk melakukan tahapan transportasi ini dibutuhkan alat angkat khusus dan truk
terbuka dengan dimensi yang besar, selain itu persoalan keamanan terhadap
produk selama perjalanan harus benar-benar diperhatikan untuk menjaga jaminan
kualitas beton tetap sama seperti sebelum diangkut dari pabrik.
Proses atau tahapan pemasangan dan penjoinan antar
elemen dari beton pracetak, juga menjadi kelemahan dari beton pracetak karena
selain alat angkat khusus yang digunakan, tahapan inipun memerlukan konstruksi
tambahan untuk memasang beton pracetak tepat pada tempatnya, dan tahapan inipun
harus betul direncanakan dan dikerjakan dengan baik untuk mencegah terjadinya
retak pada beton yang tentunya akan mempengaruhi kualitas dari struktur beton
itu sendiri. Selain itu keterbatasan sumber daya manusia dalam hal membuat
beton pracetak, mengoperasikan alat-alat yang digunakan untuk mengangkat, mengangkut
dan memasang elemen struktur beton pracetak ini sehingga menjadi satu kesatuan yang
utuh dan monolit dalam suatu bangunan juga terkadang menjadi kendala, Karena
itu diperlukan upaya pengembangan metode beton pracetak yang lebih baik yang
mampu membuat beton pracetak dengan ornament dan desain yang lebih menarik,
struktur yang lebih baik serta mampu menimalisir keterbatasan atau kekurangan
dari beton pracetak itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Adapun
yang menjadi rumusan masalah pada pembahasan kali ini adalah bagaimana bentuk
upaya pengembangan beton pracetak dan bagaimana bentuk upaya meminimalisir
keterbatasan atau kekurangan dari beton pracetak.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Pengertian Beton Pracetak
Pracetak
dapat diartikan sebagai suatu proses produksi elemen struktur bangunan pada
suatu tempat atau lokasi yang berbeda dengan tempat atau lokasi dimana elemen
struktur bangunan akan digunakan. teknologi pracetak ini dapat diterpakan pada
beberapa jenis material yang salah satu diantaranya adalah beton. Jadi beton
pracetak dapat didefinisikan sebagai beton yang dibuat dengan metode percetakan
secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop dan dipasang setelah beton cukup
umur. pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara beton pracetak
dengan beton konvesional yang umum digunakan, perbedaannya hanya terletak pada
proses produksinya dimana beton pracetak diproduksi pada tempat yang berbeda
dengan tempat beton akan digunakan sementara beton konvensional dicetak
ditempat dimana beton akan digunakan.
Saat
ini beton pracetak dianggap jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan beton
pengecoran ditempat karena dapat mengurangi penggunaan bekisting, mengurangi
upah kerja karena tenaga yang digunakan lebih sedikit, dapat mereduksi waktu
pelaksanaan proyek serta pembuatan dapat dilakukan dalam skala massal.
B. Sejarah Perkembangan Beton Pracetak
Sejarah
perkembangan beton pracetak sendiri tidak terlepas dari sejarah penemuan beton
sebagai bahan bangunan. Beton digunakan di mesir pada jaman dahulu, ditunjukkan
dengan gambar mural di thebes, yang memperlihatkan pekerja mengisi gentong
dengan air kemudian diaduk dengan kapur dan dipakai sebagai mortal untuk
pasangan batu (Nugraha,1989).
Apabila
dilihat dari sejarahnya, sistem pracetak sudah ada sejak jaman dahulu, bangunan
yang merupakan keajaiban dunia seperti piramida di mesir serta candi Borobudur
di indonesia dibangun dengan metode konstruksi pracetak, dimana batu-batu yang
digunakan dibentuk terlebih dahulu baru kemudian dipasang, bangunan-bangunan
tersebut telah terbukti bertahan terhadap ganasnya cuaca, gemuruh angin, dan
goncangan gempa dalam kurun waktu berabad-abad. Jika dilihat sejarah tersebut,
beton pracetak semestinya bukanlah merupakan hal yang baru lagi bagi dunia
konstruksi (Suprobo, 2003).
Ide
penggunaan beton pracetak dimulai ketika josep monier mengembangkan beton
bertulang pada tahun 1850 dan menggunakan material baru tersebut untuk mencetak
pot-pot kebun , bak penampungan air, tangki-tangki dan patung. Sedangkan pada
bangunan untuk pertama kalinya dimulai ketika joseph Paxton menggunakannya pada
bangunan berbentang lebar di crystal palace, London (Testa,1972). Perkembangan
beton pracetak ini dimulai dari Negara Eropa daratan kemudian berkembang ke
Selandia baru, Amerika dan Jepang serta Negara-negara lainnya termasuk Indonesia.
Sistem beton pracetak berkembang pada tahun 1960-an dan mengalami perkembangan
pesat pada tahun 1980-an yang terkenal dengan sistem pracetak rangka perimetal.
Sebelum tahun 1980an, sistem perencanaan pracetak di Amerika dan Jepang
dilakukan dengan sangat konservatif dan sistem sambungannya direncanakan
setegar dan sekaku mungkin sehingga menghasilkan perencanaan dengan dimensi
besar yang tentu sangat mahal. Kemudian kedua Negara tersebut melakukan kerja
sama penelitian pada tahun 1991 dengan program PRESS (Precast seismic
structural system). Program tersebut diharapkan dapat memberikan masukan tentang
tata cara perencanaan sistem pracetak di daerah gempa kuat, termasuk
rekomendasi teknik sambungan yang teruji ketegarannya (Suprobo,2003).
Di
indonesia, perkembangan sistem pracetak dimulai dengan pembuatan
komponen-komponen beton pracetak dan kemudian baru dikembangkan untuk sistem
pracetak bangunan penuh. Sejak tahun 1980-an, sudah banyak perusahaan yang
membuat beton pracetak seperti tiang pancang beton, tiang listrik beton,
bantalan kereta api, dan balok jembatan. Kemudian industri konstruksi pracetak
merambah ke sistem struktur skala bangunan gedung, seperti pelat lantai hollow
core, sistem rumah susun waffle crete, sistem rumah susun bearing wall
(siprobo,2003). Kemudian sistem pracetak terus berkembang yang ditandai dengan
munculnya berbagai inovasi seperti sistem bean column slab (1998), sistem
jasubakin (1999), sistem bresphaka (1999) maupun sistem T-Cap (2000), ( Nurjaman,
2002).
Saat
ini penggunaan beton pracetak tidak hanya pada elemen struktur bangunan gedung
tapi juga sudah diterapkan pada berbagai elemen baik itu kolom, tiang pancang,
plat, tiang listrik, maupun bahan penutup pada draenase tertutup di perkotaan.
seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan terutama dalam bidang
bangunan dengan model-model dan kebutuhan baru maka jenis beton pracetak makin
bertambah dengan bentuk yang beragam pula sesuai dengan peruntukan dan
kebutuhan akan beton pracetak itu sendiri.
C. Jenis – Jenis Beton Pracetak
Sejumlah
tipe beton Pracetak digunakan, meskipun kebayakan tidak distandarisasi secara
formal, tapi tipe-tipe tersebut tersebar secara luas. Pada saat yang sama,
proses beton pracetak dapat disesuaikan untuk bentuk khusus yang dikembangkan
untuk proyek-proyek istimewa, yang diproduksi untuk menghemat biaya, dengan
catatan bahwa produksi tersebut berulang dalam jumlah yang cukup besar
(Nilson,2003). Pada umumnya teknologi beton pracetak digunakan pada semua
bagian struktur baik itu tiang, kolom, plat. Jenis beton pracetak inipun akan
semakin beragam melihat tinggi permintaan dan kebutuhan akan beton pracetak.
Beton
pracetak untuk elemen struktur dapat dibagi dalam dua jenis berdasarkan jenis
penahan tariknya, yakni beton bertulang biasa dengan beton bertulang pratekan.
Dalam proses pabrikasi atau pembuatan beton pratekan, beton diberikan tekanan
terlebih dahulu sehingga pada saat dibebani akan terjadi pengurangan tekanan
namum tidak menyebabkan beton mengalami tarik karena seluruh bagian beton
menahan beban, elemen yang didesain untuk bentang dan beban yang sama akan
lebih ringan dan mempunyai dimensi yang lebih kecil dari beton bertulang biasa.
D. Komponen Struktur yang Sering Digunakan
Ada beberapa tipe Precast Concrete yang
sering digunakan saat ini,yaitu sebagai berikut :
Ø Pelat lantai pre-cast (hollow-core
slab)
Penggunaan
produk precast concrete sebagai pelat lantai, relatif sudah banyak
dijumpai disini. Dengan digunakan precast maka pemakaian bekisting dan
perancah akan berkurang drastis sehingga dapat menghemat waktu pelaksanaan.
Salah satu produk precast untuk lantai adalah adalah precast hollow
core slab.
Sistem
precast hollow core slab menggunakan sistem pre-tensioning dimana
kabel prategang ditarik terlebih dahulu pada suatu dudukan khusus yang telah
disiapkan dan kemudian dilakukan pengecoran. Oleh karena itu pembuatan produk precast
ini harus ditempat fabrikasi khusus yang menyediakan dudukan yang dimaksud.
Adanya lubang dibagian tengah pelat secara efektif mengurangi berat sendirinya
tanpa mengurangi kapasitas lenturnya. Jadi precast ini relatif ringan dibanding solid slab bahkan karena
digunakannya pre-stressing maka
kapasitasnya dukungngya lebih besar.
Keberadaan
lubang pada slab tersebut sangat berguna jika diaplikasikan pada bangunan
tinggi karena mengurangi bobotnya lantai. Bayangkan saja, untuk solid slab,
tebal 120 mm saja maka beratnya adalah sekitar 288 kg/m2 hampir sama
dengan berat beban hidup rencana untuk kantor yaitu 300 kg/m2.
Padahal kontribusi kekuatan pelat hanya untuk mendukung pembebanan tetap saja,
Bahkan karena beratnya tersebut akan menjadi penyumbang utama besarnya gaya
gempa. Jadi jika berat lantai berkurang maka beban gempa rencananya juga
kurang. Dengan demikian penggunaan lantai precast yang ringan juga mengurangi
resiko bahaya gempa.
Ø Dinding Luar ( Skin-wall
)
Industri
konstruksi semakin bergairah dengan adanya produk precast concrete yang dapat dipasang cepat dan
kualitasnya sangat baik. Tidak hanya dari sisi struktur, yaitu kekuatan dan
kekakuannya saja, tetapi juga dari sisi arsitekturalnya yaitu penampakan luar
(keindahan). Oleh karena itu, arsitek yang berorientasi maju pasti akan
memikirkan alternatif pemakaian produk precast
untuk bangunan rancangannya.
Bagaimana
tidak, dengan digunakannya precast maka
semua komponen yang seharusnya dikerjakan di atas bangunan sehingga susah
dijangkau arsitek untuk diawasi maka dapat dilakukan di bawah sehingga si
arsitek dengan leluasa mengawasi kualitas produk yang akan dipasangnya. Kecuali
itu, umumnya produk precast adalah
untuk komponen-komponen yang berulang (repetitif) sehingga prosesnya seperti
halnya industri pada umumnya, dibuat satu dulu sebagai contoh, jika memuaskan
akan dikerjakan lainnya dengan kualitas yang sama.
Untuk
produk precast, yang sangat
berperan adalah teknologi yang digunakannya. Siapa yang membuatnya. Tidak hanya
perencanaannya saja yang harus bagus tetapi juga perlu pelaksanaan yang baik. Precast for finishing, yang
diperuntukkan untuk keindahan, yang terlihat dari luar untuk ditampilkan, jelas
lebih sulit dibanding produk precast yang
sekedar untuk komponen struktur saja. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan,
misalnya : ketahanan terhadap cuaca (tidak retak, keramik lepas atau berubah
warna), kebocoran terhadap air hujan (teknologi karet sealant, seperti yang terpasang
pada pintu mobil), presisi yang tinggi, juga detail yang benar dari
takikan-takikan yang dibuat agar air yang menimpanya selama bertahun-tahun
tidak meninggalkan jejak yang terlihat dari luar, juga detail sambungan dengan
bangunan utamanya, bagaimana mengantisipasi deformasi bangunan yang timbul
ketika ada gempa dll-nya tanpa mengalami degradasi kinerja dan lainnya. Oleh
karena itulah perusahaan precast untuk
keperluan finishing yang sukses di Jakarta tidaklah banyak.
Ø Komponen Tangga (
Precast Stair)
Komponen
anak tangga menggunakan beton pracetak karena bagian pembuatan elemen ini
terkadang menjadi rumit dan menggunakan banyak bahan tambahan sebagai penopang,
penggunanaan teknologi beton pracetak pada elemen ini akan menjadikan banyak
pilihan desain anak tangga. Pembuatan komponen anak tangga yang cukup banyak
pada suatu bangunan tinggi tentunya akan memakan banyak waktu apabila dilakukan
secara konvensional dan dapat memiliki beban yang lebih berat, namum jika
komponen anak tangga ini dibuat dengan metode pracetak maka waktu yang
digunakan lebih singkat karena proses pembuatan komponen anak tangga dilakukan
secara massal, selain itu komponen anak tangga ini dapat dirancang dengan beban
yang lebih ringan dan dengan model dan ornament yang lebih menarik namum tetap
mempertahankan kualitas strukturnya.
Ø Transportasi Jalan Raya
( Road Transportation )
Transportasi
jalan raya sangat cocok untuk skala pembangunan dengan site yang luas sangat
tergantung pada persyaratan legal Negara setempat khususnya dalam persyaratan :
lebar, ketinggian, panjang dan beban objek yang diangkut. Desain yang dibuat
harus mempertimbangkan keadaan ini. Apabila komponen tidak memenuhi maka ia
membutuhkan biaya tambahan dalam kesulitan transportasi disamping membutuhkan
pengawalan khusus petugas jalan raya. Panjang maximum unit precast yang
diisyaratkan dalam satu angkutan tidak melebihi 30 m, Transportasi angkutan
yang rendah ( biasanya untuk panel dinding dan lantai memiliki kemampuan angkut
250 ton dan untuk objek angkut panel dinding dan lantai sangat cocok menggunakan
kendaraan yang dilengkapi dengan kerangka khusus yang dapat mendukung dan
melindungi objek angkut dan untuk objek yang panjang dan beban yang lebih besar
dapat menggunakan dua gerobak yang dihubungkan oleh beton precast itu sendiri.
E. Keunggulan Beton Pracetak
Ø Kontrol kualitas
Dengan
didukung dengan prasarana produksi berteknologi tinggi seperti pemakaian mesin,
cetakan baja, beton mutu tinggi serta pengawasan yang ketat maka akan
dihasilkan beton pracetak mutu tinggi. Proses produksi ini beton pracetak ini
dengan kontrol yang baik akan menghasilkan beton yang lebih baik dengan
ketetapan ukuran dan bentuk serta waktu yang tepat.
Ø Durasi Proyek menjadi lebih singkat
Penggunaan
teknologi beton pracetak dapat mengurangi durasi proyek karena pekerjaan
pembuatan struktur dasar bangunan dapat dilakukan bersamaan dengan pembuatan
beton, hal ini menjadikan penjadwalan pekerjaan dapat diatur dengan sedemikian
rupa dengan membuat terlebih dahulu elemen struktur yang lebih awal akan
dipasang dan pada saat beton cukup umur, struktur dasar bangunan juga telah
selesai. Proses pembuatan struktur dasar dengan pembuatan elemen struktur yang
bersamaan serta pemasangan atau erection yang cepat menjadikan waktu proyek menjadi
lebih singkat dibandingkan dengan pembuatan beton secara konvesional.
Ø Mereduksi Biaya Produksi
Penggunaan
teknologi beton pracetak ini dapat mengurangi biaya produksi karena dapat mereduksi
waktu pelaksanaan proyek yang lebih singkat serta penggunaan tenaga kerja yang
lebih sedikit sehingga mereduksi biaya atau upah bagi tenaga kerja.
Ø Kontinuitas Proses konstruksi dapat
Terjaga
Maksud
dari kontinuitas adalah kegiatan proyek yang dapat terus berjalan tampa adanya
pengaruh cuaca karena prosesnya dilakukan dalam ruangan. Dengan proses yang
dapat terus berjalan akan menimalisir delay atau keterlambatan suatu proyek
yang sedang dikerjakan.
Ø Produksi Massal
Penggunaan
cetakan yang terbuat dari baja membuat proses produksi terutama untuk elemen
struktur yang banyak dapat dilakukan berulang-ulang dengan kuantitas yang lebih
banyak, apalagi bila elemen struktur
yang dibutuhkan tidak terlalu bervariasi dan dengan ukuran yang besar, hal ini
meningkatkan efesiensi pabrikasi dari pembuatan massal beton pracetak.
Ø Ramah Lingkungan
Permasalahan
atau isu lingkungan menjadi objek kajian yang serius saat ini seiring dengan
banyaknya kerusakan lingkungan saat ini. Dan komponen beton pracetak yang di
produksi massal dibuat di pabrik dengan cetakan atau fiberglass sehingga
penggunaan cetakan kayu dapat dihindari, pengurangan penggunaan cetakan kayu
ini merupakan salah satu langkah
kepedulian terhadap isu lingkungan,
selain itu penggunan beton pracetak dapat mengurangi polusi yang timbul
pada masa konstruksi karena pada umumnya beton pracetak dibuat di pabrik di
luar kota sehingga mengurangi kebisingan dan polusi udara.
Ø Hemat lahan
Keterbatasan
lahan terutama pada daerah perkotaan terkadang menjadi masalah dalam
pembangunan gedung dan infrastruktur didaerah perkotaan sehingga jika
pelaksanaan pembangunan menggunakan cara konvensional maka akan ada lagi
kebutuhan lahan untuk melakukan pembuatan beton dan tak jarang kegiatan
pembuatanya melebar sampai kebadan jalan dan tentunya akan menganggu
kelancaraan lalu lintas disekitarnya. Dengan penggunaan teknologi beton
pracetak ini maka persoalan lahan untuk pembuatan beton dapat diminalisir
karena proses produksinya dilakukan pada ruang tertutup di suatu workshop atau
pabrik.
Ø Pelaksanaan Produksi Hampir Tidak
Terganggu Cuaca
Produksi
yang dilakukan di pabrik yang terlindung dari pengaruh matahari serta hujan
membuat pekerjaan atau produksi beton pracetak dapat terus berlangsung tampa
harus terpengaruh oleh kondisi cuaca. Cuaca hanya akan berpengaruh pada proses erection dilakukan di lokasi pekerjaan namum
prosesnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan proses produksi beton pracetak,
sehingga dengan penggunaan elemen pracetak akan mengurangi durasi waktu secara
keseluruhan serta dapat memperkecil kemungkinan terganggunya dan keterlambatan
proyek oleh pengaruh cuaca.
F. Kelemahan Beton Pracetak
Disamping keunggulan dari penggunaan
beton pracetak, terdapat pula beberapa kekurangan antara lain adalah :
Ø Transportasi
Proses
pengangkutan beton pracetak setelah di produksi dari pabrik ke lokasi proyek
ini membutuhkan biaya tambahan untuk alat bantu yang digunakan memindahkan
elemen struktur dari dan ke moda transportasi sebagai alat angkut. Proses pengakutan
ini harus direncanakan dengan baik dan faktor yang harus dipertimbangkan adalah
dimensi dan berat setiap komponen harus sesuai dengan ketersediaan alat angkut.
Moda yang digunakan inipun adalah truk dengan bak terbuka tentunya dengan
ukuran yang cukup besar pula. Selain itu keamanan selama proses perjalanan atau
pengakutan di jalan raya menuju ke lokasi proyek harus betul-betul
memperhatikan kemanan bagi pengguna jalan lainnya serta beton itu sendiri.
Kegagalan atau kesalahan pengakutan ini dapat saja membahayakan nyawa bagi para
pengguna jalan serta dapat juga menyebabkan kualitas beton menjadi menurun.
Ø Erection
Erection
adalah proses pengabungan elemen-elemen beton menjadi satu kesatuan yang utuh
sehingga membentuk suatu bangunan. Proses inipun juga memerlukan alat khusus
untuk mengangkat dan memindahkan elemen beton ini sehingga dapat terpasang
sesuai pada posisinya. Penyediaan alat bantu ini memerlukan juga biaya yang
besar sehingga perlu kajian efesiensi biaya dari antara penyediaan alat dan
nilai proyek itu sendiri, perhitungan secara detail dari volume dan nilai
proyek ini dengan biaya penggunaan alat bantu akan menjadi dasar pertimbangan
dalam pemilihan metode yang akan digunakan. apabila pekerjaan kurang memadai
maka hanya akan mengakibatkan biaya konstruksi menjadi lebih mahal.
Ø Conection
Dalam
proses penyatuan elemen-elemen beton dibutuhkan suatu kontruksi tambahan yang
mampu meneruskan semua gaya yang bekerja pada setiap elemen, dan kontruksi
tambahan inipun akan memerlukan biaya tambahan yang relatif mahal sehingga
proses penyatuan dapat dilaksanakan.
Selain
beberapa kekurangan seperti yang diuraikan diatas, terdapat juga beberapa
kendala dalam pengaplikasian metode beton pracetak ini. Adapun beberapa faktor
yang terkadang menjadi kendala dalam proses aplikasi dari metode beton pracetak
ini adalah :
·
Teknologi
Proses
pengabungan dari beberapa elemen menjadi satu kesatuan utuh ini menjadi
permasalahan utama dalam pengaplikasian metode ini. Karena faktor penggunaan
teknologi sangat berperan penting untuk menjaga keutuhan struktur dari elemen
beton pracetak.
·
Sumber Daya Manusia
Berbeda
dengan pengaplikasian metode beton konvensional dimana sudah cukup banyak orang
yang mampu merancang,membuatnya, melaksanakannya, beton pracetak ini
membutuhkan orang-orang yang betul punya pengalaman dalam pengaplikasian metode
ini terutama dalam proses ercetion dan jumlahnya saat ini masih terbatas.
·
Perencanaan
Pada
tahap perencanaan ini hal yang harus diperhatikan adalah usaha untuk
mendapatkan berat komponen yang ringan tanpa mengurangi standarisasi atau
syarat-syarat teknisnya, begitu juga dengan komponen sambungan, hal ini
dimaksudkan untuk mempermudah proses pengangkutan.
·
Bentuk dan Dimensi
Untuk
bentuk dan dimensi ini maka faktor yang harus diperhatikan adalah : kemampuan
pabrikan dalam penyediaan cetakan yang baik dan efesien, kemampuan alat angkut
pabrik, kondisi jalan dan rute transportasi dari pabrik ke lokasi proyek dengan
segala perijinan, dan alat angkut di lapangan atau di lokasi proyek.
·
Koordinasi antara produsen dan kontraktor
Koordinasi
ini terkadang menjadi persolan karena perbedaan antara produsen dengan
kontraktor, dimana produsen terkadang lebih menyukai efesiensi cetakan per
produk sedang kontraktor menyukai efesiensi perlantai, jika hal ini tidak
berjalan baik tentunya akan menganggu proses penyediaan dan pengiriman dapat
terlambat.
G. Sambungan pada Beton Pracetak
Menurut
PCI (1992) desain sambungan adalah hal yang paling penting dalam perencanaan
struktur beton pracetak dan harus diperhatikan dengan teliti dari segi desain
dan pelaksanaannya. Selain itu sambungan harus sesederhana mungkin untuk
menghemat biaya dan memungkinkan pemasangan yang cepat (Libby, 1990) adapun
fungsi dari sambungan ini adalah untuk mentransfer beban-beban yang bekerja dan
menyatukan masing-masing komponen beton pracetak menjadi kontinuitas monolit sehingga dapat mengupayakan
stabilitas struktur bangunannya (Wijanto, 2005). Dalam pemilihan jenis
sambungan pada beton pracetak, ada beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan
(PCI,2004) yakni : Kekuatan (strength), daktilitas (ductility), perubahan
volume (change volume accommodation), ketahanan (durability), tahan bakar (fire
resistnce), dan mudah dilaksanakan.
Terdapat
dua jenis sambungan untuk beton pracetak yakni sambungan kering (dry
conection), dan sambungan basah (wet conection). Pada sambungan kering,
digunakan pelat besi sebagai penghubung antar komponen beton pracetak dan
hubungan pelat menggunakan baut atau di las. Sedang pada sambungan basah
terdiri dari besi tulangan yang keluar dari bagian ujung komponen beton
pracetak yang dihubungkan dengan bantuan mechanically coupled atau memnuhi
standar panjang penyaluran, kemudian pada sambungan akan dilakukan pengecoran.
H. Pengangkatan dan Pemasangan Beton
Pracetak
Proses
pengakatan dan pemasangan juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya untuk
diperhatikan karena kesalahan dan tidak baiknya proses ini dapat mengakibatkan
keretakan pada beton dan tentunya dapat mengurangi kekuatan struktur beton itu
sendiri. Beban kerja pada saat pengangkatan brton pracetak, seharusnya
berdasarkan pada faktor keamanan. Konslutan perencana seharusnya mempesifikkan
atau menyetujui lokasi dan tipe komponen yang akan digunakan. banyak dari
komponen beton pracetak yang ditujukan untuk menerima beban yang lebih besar
dan terkadang menerima beban yang berbeda, pada saat pengangkatan dari pada
yang seharusnya diterima apabila komponen tersebut sudah terpasang pada
bangunan, dan fakta ini seharusnya dipertimbangkan dlam desain struktur beton
pracetak (Waddell dan dobrowolski,1993).
Pemilihan alat angkut ini harus
benar-benar diperhatikan dan pemilihan alat angkut ini dipengaruhi beberapa
faktor seperti tinggi bangunan, kondisi lokasi proyek, serta berat dan jumlah
komponen beton pracetak.
I. Metode-metode beton Pracetak
Perkembangan
beton pracetak di indonesia cukup signifikan terbukti dengan adanya hak paten
untuk beton pracetak, hingga saat ini ada 15 metode pracetak yang dikembangkan
para ahli dari indonesia dan tentunya
hal ini akan terus meningkat kedepannya seiring dengan peningkatan teknologi
saat ini.
Ada
beberapa metode yang saat ini dikenal yang merupakan hasil dari penelitian
tentang beton pracetak itu sendiri, tergolong sebagai metode yang baik dengan
pelaksanaan mudah dan hemat. Adapun metode-metode itu adalah :
Ø Siste
waffle crete
Sistem
waffle crete ini menggunakan dinding sebagai pemikul beban. Komponen-komponen
pracetaknya terdiri dari panel lantai dan panel dinding. Dinding pracetaknya
berupa dinding struktur sehingga tidak menggunakan kolom sebagai pemikul beban.
Panel
dinding dan lantai pada sistem waffle crete ini merupakan beton expose sehingga
tidak memerlukan pekerjaan acian di lapangan dan untuk sambungannya menggunakan
baut baja.
Sistem
ini memiliki kelemahan yakni kurang fleksibel dalam penataan ruang dikarenakan
dinding yang ada tidak boleh dihancurkan sembarangan karena funsinya sebagai
dinding struktur dan dimensi-dimensi panel sulit untuk dimodifikasi. Namum
terlepas dari kelemahan itu sistem ini merupakan sistem yang paling banyak
digunakan dalam pembangunan rumah susun di indonesia, dengan kapasitas produksi
2000 unit pertahun (IAPPI,2007).
Ø Sistem
Column Slab
Sistem
ini merupakan sistem struktur dengan rangka terbuka dengan komponen-komponen
pracetak berupa panel lantai dan kolom, selain itu terdapat panel side beam
yang dipasang pada bagian-bagian paling luar. Pada sistem ini kolom dipasang
terlebih dahulu karena pemasangan panel lantai bertumpu langsung pada kolom
kemudian side beam dipasang pada bagian paling luar (PT JHS, 2007).
Sambungan
pada sistem ini menggunakan sambungan pipa quarter baja, angker vertical dan
horizontal baja prategang. Dalam hal penataan ruang sistem ini jauh lebih baik
karena fleksibel dengan rangka terbuka sehingga peletakan panel dinding dapat
lebih fleksibel tetapi dimensi lantai masih belum fleksibel karena jika terlalu
besar dimensi panel lantai menjadi lebih tebal dan efektif.
Ø Sistem
Bresphaka
Bresphaka
merupakan suatu rekayasa kontruksi gedung dengan sistem rangka terbuka yang
terdiri dari komponen pracetak kolom, balok, pelat, dinding, lantai dengan
penggunaan bahan beton ringan atau beton normal atau kombinasi keduanya dengan
sambungan pada sistem ini berupa grouting.
Penggunaan
beton ringan menjadikan berat panel sendiri menjadi lebih ringan sehingga gaya
gempa yang diterima lebih kecil dan pondasinya dapat lebih kecil juga (IAPPI,
2007).
Pada
sistem ini jumlah pengecoran di tempat lebih sedikit, dan dalam penataan ruang
sistem ini fleksibel karena merupakan struktur dengan rangka terbuka namun
masih terdapat beberapa kelemahan pada sistem ini karena mengandalkan
penggunaan beton ringan. Hingga saat ini penerapan teknologi beton ringan
dilapangan masih sulit dilakukan sehingga efesiensi strukturnya belum dapat
dilakukan, selain itu komponen strukturnya cukup banyak sehingga kecepatan
pelaksanaannya sedang saja (IAPPI,2007).
Ø Sistem
T-cap
Sistem
ini merupakan sistem struktur rangka terbuka dengan komponen pracetak berupa
kolom T, balok T dan half slab. Sistem
sambungannya dengan grauting. Kelebihan sistem ini adalah peletakan dinding
yang fleksibel dan dimensi panelnya dapat dimodifikasi serta kolom T dapat
dengan mudah disembunyikan sehingga menjadi favorit bagi para arsitek. Adapun kekurangan dari sistem ini adalah
pengecoran yang dilakukan dilapangan masih cukup banyak, jumlah komponen
pracetak cukup banyak, dan detail sambungannya masih kurang praktis dilakukan
dilapangan sehingga waktu pelaksanaannya sedang saja. sistem sambungan untuk
sistem ini masih perlu disempurnakan lagi untuk mempermudah dan mempercepat
pelaksanaannya dilapangan (IAPPI,2007).
Ø Sistem
Beam Column Slab
Sistem
Beam Column Slab merupakan sistem struktur dengan rangka terbuka yang terdiri
dari komponen-komponen balok, kolom, dan pelat pracetak. Sistem ini diadopsi
dari konsep pracetak yang dikembangkan bapak Iswandi imron, yang merupakan
salah satu staf ahli PT Ahimix Precast Indonesia. Sistem ini dipatenkan pada
tahun 1998 dan baru diterapakan pada tahun 2000 pada proyek ruko sentul, Jawa
Barat.
Kolom
sabagai salah satu elemen struktur yang berfungsi untuk menahan gaya lintang
dan gaya lateral (gaya gempa). Balok pracetak memiliki fungsi untuk meneruskan
gaya ke kolom dan pelat pracetak berfungsi sebagai difragma. Pelat pracetak ini
terbagi menjadi dua macam yakni half slab dan preslab. Sistem ini dapat
diapliaksikan pada pembangunan perumahan, ruko, gudang, bangunan bertingkat
rendah dan sedang serta rusunawa.
Keuntungan
dari penggunaan sistem Beam Column Slab ini adalah :
·
Harga yang lebih murah karena penggunaan
grouting yang lebih sedikit
·
Sambungan menggunakan las sehingga panjang
penyaluran untuk sambungan dapat lebih pendek dibandingkan dengan grouting
·
Karena komponen pracetaknya hanya setegah
dari tebal rencana maka transportasi atau pengangkutan lebih ringan.
·
Perencanaan sambungan pada sistem ini sudah
memperhitungkan beban gempa dengan menggunakan sambungan khusus (wet conection
and dry cocnection sehingga lebih monolit)
·
Sistem ini lebih fleksibel dalam mengikuti
desaian arsitektur konvensional yang direncanakan karena merupakan sistem
struktur dengan rangka terbuka
Adapun
kelemahan dari pengaplikasiaan sistem Beam Column Slab ini adalah : waktu
pelaksanaanya yang relative lebih lama dikarenakan setting leveling sebelum di
las memerlukan perhatian lebih, dan masih memerlukan pengecoran dilapangan
untuk half slabnya.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Pengembangan Penggunaan Beton Pracetak
Adanya
peningkatan kebutuhan pembangunan di Indonesia mendorong berkembangnya metode
konstruksi di bidang teknik sipil. dalam upaya pemenuhan kebutuhan tersebut,
tuntutan akan pekerjaan konstruksi yang efektif dan efisien makin besar. Sistem
Pracetak, sebagai salah satu metode konstruksi dan merupakan alternatif tepat
karena memiliki keunggulan dalam hal kecepatan, kontrol kualitas, dan kemudahan
dalam pelaksanaan.
Pada
saat ini, telah terdapat berbagai macam sistem struktur beton pracetak yang
telah dikembangkan oleh berbagai perusahaan swasta, instansi pemerintah, maupun
Badan Usaha Milik Negara yang mendukung sektor konstruksi di Indonesia. Sistem
struktur tersebut telah diuji di laboratorium dan telah diaplikasikan pada
sektor konstruksi berupa bangunan gedung maupun infrastruktur lainnya. Sistem
struktur beton pracetak mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan
sistem struktur beton konvensional, di antaranya adalah efisiensi waktu
pengerjaan, efisiensi energi, serta ramah lingkungan. Penggunaan beton pracetak
pada bangunan-bangunan dan infrastruktur lainnya harus terus dikembangkan dan
digalakkan karena banyaknya keuntungan yang diperoleh dari penggunaanya.
Dalam pelaksanaannya, Sistem pracetak (precast)
lebih tepat dan efisien apabila diaplikasikan pada beberapa hal. Diantaranya
adalah pengaplikasian pada gedung-gedung tinggi, rumah susun, ruko atau rukan,
jembatan dengan bentang yang lebar dan panjang serta infrastruktur lainnya.
Penggunaan sistem beton pracetak ini juga sangat baik diaplikasikan pada gedung
yang berada pada daerah dengan zona gempa relatif rendah (zona gempa I dan zona
II) serta pada gedung yang bertipe tipikal. Zona gempa relatif rendah (I dan
II) memiliki frekuensi gempa yang tidak terlalu sering dengan intensitas yang
tidak terlalu besar. Maka dari itu metode pracetak sangat tepat, karena pada
metode pracetak (precast) ikatan yang terjadi tidak terlalu kaku. Sedangkan
pengaplikasian metode pracetak pada gedung dengan tipe tipikal lebih efisien karena
pada gedung dengan tipe ini mempunyai elemen yang tipikal sehingga lebih mudah
dalam pengerjaan dan pelaksanaannya.
Penggunaan
beton pracetak yang saat ini mulai banyak digunakan juga dianggap sebagai satu
langkah maju dalam penciptaan suatu sistem kontruksi yang ramah lingkungan atau
biasa juga disebut sebagai sistem kontruksi hijau, sistem konstruksi hijau ini
adalah salah satu pilar penting dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan yang
marak dibicarakan saat ini.
Hasil
dari metode beton pracetak seperti plat lantai, kolom, balok, komponen tangga, panel
dinding adalah jenis beton pracetak yang banyak digunakan saat ini dan Jenis
sistem struktur yang paling banyak dikembangkan saat ini adalah sistem join
balok-kolom beton pracetak, sistem panel dinding geser beton pracetak, serta
sistem struktur panel beton pracetak sebagai pelat jembatan. Perkembangan
sistem struktur join dan panel beton pracetak terutama dirasakan sangat
membantu kelancaran pembangunan nasional dan terutama pembangunan daerah
perkotaan yang tidak terlepaskan dari persoalan keterbatasan lahan, permasalahan
keterbatasan lahan inipun diantisipasi dengan efesiensi penggunaan lahan
sehingga pola pembangunan dirubah atau diarahkan dari pembangunan horizontal
menjadi pembangunan vertikal. Pengembangan pembangunan vertikal ini yang
ditandai dengan banyaknya gedung-gedung berlantai tinggi menjadikan permintaan
ketersediaan dan pengembangan metode beton pracetak semakin meningkat,
peningkatan permintaan dan kebutuhan inipun mestinya harus sejalan dengan
peningkatan kualitas dari beton pracetak baik itu dari kekuatan dan ketahanan
strukturnya, model dan desainnya sesuai dengan trend bangunan yang berkembang
saat ini. Perkembangan teknologi yang telah menghasilkan berbagai metode dan
jenis beton pracetak yang sejalan dengan perkembangan trend, desain, fungsional
serta mempertimbankan kondisi kawasan seperti daerah rawan gempa menjadikan
beton pracetak sebagai bahan kontruksi yang makin diminati saat ini.
B. Pembangunan Berkelanjutan
Sistem konstruksi hijau (green construction) merupakan
bagian dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Construction), yang merupakan suatu topik hangat
di dunia konstruksi internasional sebagai respon atas issue pemanasan global (global warming) yang marak saat
ini, dan sistem pracetak beton merupakan salah satu sistem pembangunan yang
memenuhi kaidah konstruksi hijau.
Prinsip dasar dari
pembangunan berkelanjutan adalah penggunaan energi yang optimal secara
integratif mulai dari tahap perencanaan, konstruksi, pemanfaatan sampai pada
pembongkaran. Hal ini dapat terwujud jika perencanaan dilakukan secara
integratif antara arsitek, perencana struktur dan perencana utilitas. Beberapa
referensi menyatakan bahwa gedung sangat potensial bagi sasaran pengurangan
emisi CO2, dan juga paling murah untuk mengusahakannya tentunya dengan dukungan
elemen struktur bangunan yang ramah lingkungan namum tetap memiliki kekuatan
struktur yang baik dan hal ini dapat dilakukan dengan pemanfaatan beton
pracetak.
Ada dua aliran konsep utama
dalam pembangunan gedung di dunia saat ini, yaitu konsep pembangunan ikonik dan
konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan ikonik menekankan
terciptanya bangunan yang diharapkan menjadi suatu ikon bagi suatu kawasan,
daerah, kota atau Negara tertentu. Sedang konsep pembangunan berkelanjutan
menekankan pada optimalisasi penggunaan energi, Konsep ini didasarkan atas
pertimbangan bahwa sumber energi di bumi ini semakin terbatas, sehingga
penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana.
Secara
umum, menurut Green Building Council Indonesia (GBCI), ada 7 aspek yang menjadi
penilaian terhadap suatu gedung jika ingin direncanakan dengan konsep
pembangunan berkelanjutan, dan aspek pembangunan gedung terkait dengan bahan
dan metode yang digunakan merupakan salah satu aspek
dalam pembangunan berkelanjutan dan konsep konstruksi yang memenuhi konsep ini
dikenal sebagai konstruksi hijau (green
contstruction) dengan prinsip utama konstruksi hijau dalam segi
material adalah 3 R (reduce,
reuse, recycle) dan sistem beton pracetak
merupakan salah satu sistem pembangunan yang memenuhi kaidah dari sistem
kontruksi hijau.
Prinsip reduce diterapkan
pada efisiensi penggunaan material dan metoda kerja :
a. Bahan beton adalah material
lokal yang banyak ditemui di Indonesia.
b. Perencanaan sistem pracetak
akan dapat menghemat pemakaian besi, sebagai material yang paling banyak
menghasilkan emisi dalam pembuatannya, serta bahan dasarnya masih impor.
c. Metoda kerja banyak melakukan
penghematan pada cetakan dan penghematan perancah, serta dapat mendekati zero waste pada
material besi dan beton.
Prinsip reuse terutama
diterapkan pada repetisi penggunaan cetakan yang jauh lebih banyak dibandingkan
dengan cetakan sistem konvensional. Cetakan kayu yang dilapis phenolin dapat
dipakai 10 – 15 x dibandingkan dengan cetakan kayu konvensional. Cetakan dari
bahan fibre atau baja bahkan dapat dipakai ratusan kali.
Prinsip recycle
dapat diterapkan pada bahan cetakan dari bahan besi dan fibre, yang
dapat dibuat dari bahan daur ulang dan juga material grouting yang sudah
mempunyai green label.
C. Penggunaan Beton Pracetak
pada Bangunan Rumah Susun
Beton pracetak sudah banyak digunakan saat ini untuk
bangunan-bangunan seperti gedung-gedung tinggi, ruko atau rukan, rumah susun serta infrastruktur seperti jalan, jembatan,
pelabuhan,tiang listrik. Namun penggunaan beton pracetak untuk pembangunan
rumah susun menjadi marak saat ini, hal ini dikarenakan pada kebutuhan akan
tersedia perumahan yang layak dirasakan masih sangat kurang, pemilihan penggunaan
beton pracetak sebagai bahan konstruksi dari bangunan rumah susun ini karena beberapa keunggulan dan kemudahan
penggunaan atau pengaplikasian dilapangan.
Seperti yang
kita ketahui bahwa pertambahan penduduk Indonesia terutama di daerah perkotaan sangatlah pesat. Pada 1980 jumlah
penduduk perkotaan baru mencapai 32,8 juta jiwa atau 22,3%. Pada tahun 1990
meningkat menjadi 55,4 juta jiwa atau 30,9%, dan menjadi 90 juta jiwa atau 44%
pada tahun 2002. Hasil sensus tahun 2010 menunjukan jumlah penduduk Indonesia
237,7 juta jiwa, dengan jumlah penduduk perkotaan 54 %. Angka tersebut
diperkirakan akan mencapai 68% pada tahun 2025. Melihat peningkatan pertambahan
penduduk yang terus meningkat didaerah perkotaan ini, maka dapat dipastikan
bahwa kota tidak akan memiliki cukup ruang ditengah keterbatasan lahan
perkotaan, sementara penduduk yang terus bertambah ini membutuhkan tempat untuk
bernaung atau tempat untuk tinggal, melihat kondisi ini maka perubahan
pengembangan pembangunan diarahkan dari pembangunan horizontal menjadi
pembangunan vertikal dan hal ini diaplikasikan dalam pengembangan pembangunan
rumah susun diperkotaan.
Pengembangan ini
dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusianya didaerah
perkotaan yang dilakukan pemerintah dengan peremajaan kota sebagai upaya
penataan kembali bagian kawasan kota dengan cara mengganti sebagian, atau
seluruh unsur-unsur lama. Salah satu bentuk penggantian tersebut dengan
mengganti permukiman horizontal menjadi vertikal, yang dikenal dengan nama Rusunawa
(rumah susun sederhana sewa) atau Rusunami (rumah susun sederhana milik).
Mengingat diperkotaan cukup banyak masyarakat yang berpenghasilan rendah, maka
Rusunawa diduga lebih diminati dibanding rusunami. Oleh karenanya pemerintah
berupaya membangun rusunawa dengan jumlah yang lebih banyak. Pembangunan ini seutuhnya
akan menggunakan konstruksi beton, namum pada konstruksi beton akan banyak
sumberdaya alam yang dimanfaatkan. Hal ini tidak sejalan dengan rencana
pemerintah untuk menurunkan emisi sebesar 26 % dan menurunkan kerusakan
sumberdaya alam. Oleh karena itu maka perlu dicarikan konstruksi yang lebih
sedikit menggunakan sumberdaya alam, sehingga menjadi lebih ramah lingkungan.
Namun demikian kajian ke arah hal tersebut masih sangat minim. Oleh karena itu
maka pada tahap awal diperlukan penelaahan tentang pengembangan Rusunawa yang
ramah lingkungan, khususnya dalam pelaksanaan konstruksi.
Pembangunan rusunawa
membutuhkan banyak sumberdaya alam sebagai bahan baku konstruksi dan tentunya pemanfaatan
sumberdaya tersebut dapat berdampak terhadap kerusakan alam, bangunan rusunawa terbuat dari konstruksi beton, yang dalam
pengerjaannya dapat dilakukan melalui 3 alternatif pelaksanaan konstruksi,
yaitu secara konvensional, pracetak sebagian dan pracetak penuh. Sistem beton
konvensional merupakan sistem pembangunan yang menggunakan teknik konvensional
baik dari segi struktur maupun arsitektur. Pembuatan strukturnya menggunakan
teknik cor di tempat dengan cetakan dan perancah dari kayu. Pembuatan komponen
dinidng arsitekturnya menggunakan bahan bata atau batako yang diplester dan
diaci.
Penggunaan Sistem
beton pracetak jauh lebih baik dan lebih ramah lingkungan daripada sistem
konvensional karena dapat mengurangi penggunaan bahan dari sumber alam seperti
kayu dan besi. Jenis-jenis beton pracetak yang digunakan pada bangunan rumah
susun dimulai dari struktur dasar seperti tiang, kolom, balok, pelat rantai,
dan komponen anak tangga.
Sistem beton
pracetak dapat mengurangi pemakaian besi tulangan beton secara signifikan
dibanding dengan beton konvensional, Penghematan besi yang sangat signifikan
ini didapat karena sistem pracetak yang digunakan adalah sistem column-slab
yang sangat efisien, terutama dari komponen pelat yang menggunakan sistem grid
prategang.
Kondisi yang
sama juga terlihat pada penggunaan kayu, baik sebagai perancah maupun sebagai
cetakan. Selain penggunan bahan bangunan yang lebih efisien, kelebihan lain
dari penggunaan beton pracetak adalah dalam pembiayaan yang berkurang secara
cukup signifikan dan durasi waktu yang lebih singkat, begitu juga dengan penggunaan
tenaga kerja secara total.
Dengan
keunggulan dari beton pracetak dengan kecepatan pelaksanaannya maka
pengembangan pembangunan rumah susun dapat dilakukan dengan cepat sehingga
tujuan tersedia tempat hunian bagi penduduk serta peremajaan dan perbaikan
kualitas kota dan masyarakatnya dapat segera terwujudkan. Cukup banyak proyek
pembangunan rumah susun yang menggunakan beton pracetak sebagai bahan kontruksi
utama yang telah berhasil dan hal ini harus digalakkan dan dikembangkan dengan
mengaplikasikannya pada bangunan rumah susun didaerah perkotaan di indonesia.
D. Penggunaan Beton Pracetak
Untuk Pembangunan Infrastruktur
Ketersediaan infrastruktur merupakan suatu hal yang mesti dipenuhi
karena infrastruktur yang baik merupakan kebutuhan masyarakat dan akan menjadi
stimulus atau rangsangan bagi perkembangan suatu Negara, daerah, kawasan
menjadi lebih baik, infrastruktur ini
haruslah mampu mengakomodir dan memudahkan segenap aktivitas keseharian
masyarakat dan ketersediaan tidak hanya mencakup hanya pada segi kuantitasnya
saja namum juga harus juga memenuhi kualitas dan pelayanan yang baik.
Penggunaan beton pracetak juga sudah lama diaplikasikan pada
infrasturktur seperti jalan, jembatan, jembatan penyebrangan, pelabuhan,
trotoar. Selain jaminan kualitas elemen beton yang baik karena lahir dari
proses dan kontrol yangng baik, penggunaan beton pracetak ini jauh lebih baik
dari penggunaan beton konvensional karena proses pelaksanaanya yang cepat
sehingga tidak menimbulkan gangguan yang
cukup besar terhadap arus lalu lintas dilokasi atau lapangan sehingga kemacetan
dapat lebih diminimalisir karena proses pembangunan infrastruktur. Hal ini
dirasakan sekali terutama pada pembangunan infrastruktur seperti jalan,
jembatan dan jembatan penyebrangan.
E. Pengembangan Produk lain
dari Beton Pracetak
Produk
dari beton pracetak seperti kolom, balok, pelat lantai, komponen anak tangga,
dinding, memang sudah banyak diaplikasikan pada berbagai bangunan dan infrastruktur,
hal ini tentunya tidak dapat dipisahkan dari segenap kelebihan yang dimiliki
dari sistem beton pracetak ini. Namum seiring perkembangan, produk atau jenis
beton pracetak mestinya lebih dikembangkan lagi dan diaplikasikan pada elemen
yang lebih kecil namum dibutuhkan dalam jumlah yang banyak seperti pelat untuk
draenase dan pelat penutup untuk draenase tertutup pada daerah perkotaan serta
bagian median atau pembatas jalur pada jalan raya, serta elemen struktur untuk
trotoar.
Penggunaan
beton pracetak pada elemen-elemen kecil ini namum dibutuhkan pada jumlah yang
banyak akan membawa banyak keuntungan karena proses pekerjaan dilapangan lebih
sidikit dibanding dengan penggunaan metode konvensional. Penggunaan metode
pracetak memiliki keunggulan karena proses pemasangan yang cepat dilokasi
sehingga tidak terlalu menganggu arus lalu lintas yang ada.
Pembuatan
draenase dengan metode konvensional terutama pada daerah perkotaan biasanya
sangat menggangu arus lalu lintas karena dikerjakan dalam waktu yang lama dan
terkadang sisa galian, bahan material serta proses pembuatan beton mengambil
sebagian badan jalan untuk tempat menyimpan material dan membuat beton sehingga
mempersempit jalan dan berujung pada terganggunya arus lalu lintas.
Pelat
draenase dan pelat penutup draenase dapat didesain untuk memudahkan arus air
turun ke draenase dengan menyediakan rongga atau lubang pada bagian pelat
sehingga genangan di ruas jalan dapat dikurangi. Selain itu penggunaan metode
pracetak pada pembuatan draenase akan memudahkan mengangkat atau memindahkan
pelat penutup sehingga memudahkan proses pengerukan dan pembersihan draenase. Penggunaan
metode pracetak untuk pembuatan draenase sangatlah efektif apalagi jika
dilakukan secara serentak pada daerah perkotaan yang terencana dalam suatu
sistem draenase perkotaan atau daerah tertentu sehingga proses pembuatan pelat
beton pracetak dapat dilakukan secara massal. Begitupun pada pembuatan median
atau pembatas jalan serta trotoar, metode beton pracetak pada pembangunan kedua
hal ini sangatlah efektif karena pekerjaannyayang cepat serta membutuhkan beton
pracetak dalam jumlah yang banyak. Pembuatan elemen beton dapat dirancang dan
didesain dengan pola dan warna tertentu untuk memudahkan para pengguna jalan untuk
melihat sehingga fungsi median jalan dapat menjadi lebih baik atau meningkat.
Sedangkan untuk elemen trotoar, juga dapat di rancang dan didesain dengan pola
dan warna dengan memperhatikan tingkat keamanannya bagi para pejalan kaki.
Desain yang menarik serta pola yang baik dengan memperhatikan tingkat kemanan
menjadi hal yang akan menarik bagi para pejalan kaki untuk menggunakan trotoar.
Dengan
efektifitas dan keuntungan serta berbagai kelebihan yang dimiliki beton
pracetak maka sangatlah penting untuk mengaplikasikan atau menggunakan elemen
beton pracetak untuk pembangunan atau pembuatan draenase, median jalan serta
trotoar.
F. Upaya Meminimunkan Kekurangan Beton
Pracetak
Kekurangan
dari penggunaan beton pracetak ada pada
proses transportasi, erection dan conection serta dibutuhkannya alat
angkat khusus untuk memindahkan elemen beton pracetak ke mobil pengangkut dan
untuk mengangkat dari alat angkut ke tempat dimana elemen beton akan dipasang.
Kekurangan ini karena beton pracetak yang banyak digunakan memiliki dimensi bentang yang panjang dan lebar sari
beton sehingga beton jauh lebih berat sehingga membutuhkan alat khusus sehingga
diperlukan biaya tambahan.
Kekurangan
dari metode beton pracetak terutama dalam hal transportasi dapat diminumkan
dengan melakukan proses transportasi atau pendistribusian dari pabrik ke lokasi
proyek pada waktu malam hari sehingga proses ini tidak terlalu mengganggu
kenyamanan pengguna jalan lainnya, proses pemindahan elemen beton dan kendaraan
serta alat angkut dapat berjalan lebih lancar.
Kekurangan-kekurangan
lainnya dari metode pracetak ini juga dapat diminimalisir dengan penyediaan
alat angkat khusus oleh pihak tertentu ataukah BUMN sehingga produsen maupun
pengguna dapat menyewa alat ini tentunya dengan harga yang lebih terjangkau.
Hal ini dapat dilakukan oleh pihak pemerintah atau BUMN untuk makin menigkatkan
penggunaan metode beton pracetak karena penggunaan beton pracetak untuk
pembangunaan dapat dikategorikan sebagai sistem konstruksi hijau yang tentunya
menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan sehingga
tercipta lingkungan yang lebih baik. Upaya meminimalisir kekurangan dari beton
pracetak meski dilakukan dengan menyertakan perbaikan dalam hal menajemen
produksi dan pendistribusian serta penjadwalan proses pendistribusian dari
elemen beton pracetak yang dihasilkan dan yang akan digunakan. hal ini dapat
dilakukan juga dengan pengembangan beton pracetak yang memiliki berat jenis
beton yang lebih ringan namum tetap mengutamakan kekuatan strukturnya,
mengefisienkan penggunaan sambungan.dengan melakukan perbaikkan pada setiap
pengembangan produk dan metode beton pracetak maka diharapkan makin menjadikan
beton pracetak sebagai bahan struktur utama dalam pembangunan sehingga dapat
membawa dampak positif dalam penggunaan sistem kontruksi hijau sehingga
pembangunan berkelanjutan dapat terwujudkan.
BAB
IV
PENUTUP
Dari pembahasan yang telah dipaparkan, dapat diambil
kesimpulan bahwa sistem struktur beton pracetak merupakan salah satu alternatif
teknologi dalam perkembangan konstruksi di Indonesia yang bisa dilakukan dengan
lebih terkontrol, lebih ekonomis, serta mendukung efisiensi waktu, efisiensi
energi, dan mendukung pelestarian lingkungan. Sistem tersebut cocok digunakan
pada bangunan seperti rumah susun, asrama, rumah toko, ataupun kantor.
Penggunakan
beton pracetak dalam pelaksanaan konstruksi suatu bangunan memiliki kelebihan dibanding
konvensional, kelebihan beton pracetak terutama terdapat dalam hal durasi waktu
pelaksanaan, kualitas beton yang lebih baik karena kontrol produksi yang ketat,
biaya lebih murah dan penghematan penggunaan kayu untuk cetakan, penyangga atau
penopang sehingga memenuhi kriteria konstruksi hijau yang sangat memperhatikan
efisiensi energi.
Penggunaan
metode pracetak saat ini sudah banyak digunakan terutama untuk pada bangunan
tinggi, dan insfrastruktur dengan kebutuhan akan dimensi panjang dan bentang
yang lebar. Produk dari beton pracetak yang paling banyak digunakan berupa
pelat lantai, tiang, kolom, balok, komponen tangga, dinding luar, namum jenis
produk dari beton pracetak meski lebih dikembangkan lagi terutama pada jenis
yang lebih kecil namum digunakan dalam jumlah yang banyak seperti pelat untuk
drenase dan pelat penutup draenase, bahan untuk median jalan, serta pelat untuk
trotoar.
Untuk
meminimalisir kekurangan beton pracetak terutama dalam hal transportasi dapat
dilakukan pengaturan jadwal pendistribusian dan dilakukan pada waktu malam
sehingga proses transportasi ini tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas,
sedang untuk kekurangan lainnya diminimalisri dengan melakukan perbaikan dalam
hal manajemen produksi dan pendistribusian beton pracetak, serta mengembangkan
beton pracetak dengan berat jenis yang lebih ringan tampa mengurangi kekuataan
struktur dari beton itu sendiri.