Tugas
Mata
Kuliah : Teknologi Bahan
Dosen :
Ir. H. Sumirin, MS
Mahasiswa : Saktria Wirawan / MTS 11.19.3.0414
Teknologi Bahan ( Beton )
A.
Pengertian
beton
Seiring
dengan perkembangan pembangunan saat ini dengan permintaan akan daya tahan
bangunan yang baik maka
beton kemudian menjadi salah satu bahan konstruksi yang
paling banyak digunakan dalam suatu konstruksi bangunan, hal ini dikarenakan bahan-bahan
dasar pembuatan beton seperti air, semen, pasir dan agregat kasar mudah
ditemukan, selain itu beton mudah di buat dan dibentuk sesuai dengan keinginan
dan juga karena beton merupakan bahan konstruksi yang awet dan tahan lama dan
memiliki kuat tekan yang tinggi.
Menurut pedoman beton 1989, beton di definisikan
sebagai campuran cement Portland atau sembarang semen hidrolik yang lain, agregat
halus,agregat kasar dan air, dengan atau tampa menggunakan bahan tambahan.
Macam dan jenis beton berdasarkan bahan pembentukannya adalah beton normal,
beton bertulang, beton pra tekan, beton ringan, beton tampa tulangan dan beton
fiber.
B. Bahan penyusun beton
Ø Semen
Semen merupakan bahan salah satu bahan
penyusun beton yang berupa bubuk halus yang jika dicampur dengan air
akan menghasilkan adukan semen atau biasa juga disebut dengan pasta. Adukan semen atau
pasta ini berfungsi untuk mengikat dan menahan bersama agregat-agregat di
dalam campuran. Ada beberapa jenis semen yang kita kenal, yaitu:
§
Semen portland
§
Semen blended hidrolis
§
Semen hidrolis expansif
Dari berbagai jenis semen diatas, semen portland adalah semen
yang pada umumnya digunakan pada pelaksanaan konstruksi. Adapun semen lainnya
hanya digunakan untuk bangunan atau kondisi tertentu saja. Semen
ini pun memiliki syarat mutu berdasarkan SNI, ASTM C 595 dan ASTM C845. Dan
dalam penggunaannya dalam pekerjaan konstruksi, semen yang digunakan harus
sesuai dengan semen yang digunakan pada perancangan proporsi campuran.
Ø Air
Air pada
campuran beton memicu proses kimiawi dari semen, air bagian vital dari campuran beton karena air
diperlukan untuk hidrasi semen yang akan menghasilkan adukan semen yang akan
mengeras seperti batu. Adukan semen atau pasta ini yang ketika keras
akan mengikat agregat-agregat menjadi satu kesatuan yang padu. Kualitas
air sangat berpegaruh terhadap mutu beton Karena
itu air
yang digunakan harus memiliki syarat yakni :
· Air
yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan yang
merusak, yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau
bahan-bahan lainnya yang akan mempengaruhi
beton atau tulangan
· Air pencampur yang digunakan pada beton
prategang atau pada beton yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk
air bebas yang ada pada agregat, tidak boleh mengandung ion klorida yang
berlebihan
· Air
yang digunakan adalah air yang dapat diminum
Ø Agregat
Agregat dalam fungsinya hanya sebagai pengisi
akan tetapi hal ini justru penting karena agregat akan menentukan sifat motar
suatu beton. Agregat dapat dibedakan menjadi dua yakni agregat kasar seperti
batu pecah dan kerikil serta agregat halus yakni pasir.
Beberapa karakteristik dari agregat yang perlu diperhatikan
adalah:
·
Kekuatan dan kekerasan, agregat-agregat yang mempunyai kekuatan
dan kekerasan yang lebih tinggi akan menghasil beton dengan kekuatan yang lebih
tinggi juga.
·
Ketahanan dalam jika mengalami gerusan dan kelapukan
·
Secara kimia tidak reaktif sehingga tidak akan beraksi dengan
larutan semen
·
Bersih sehingga rekatan antara agregat-agregat dengan adukan
semen tidak terganggu
·
Bergradasi, agregat-agregate sebaiknya mempunyai ukuran yang
bervariasi sehingga mereka akan bisa bersatu dengan baik. Sebagai hasilnya,
beton yang dihasilkan akan lebih padat dan kuat.
·
Bentuk agregat, agregat yang bundar akan menhasilkan campuran
yang mudah dikerjakan sedangkan agregat yang berbentuk tajam akan sukar untuk
dicor, dikerjakan/diratakan dan dipadatkan akan tetapi menghasilkan beton yang
lebih kuat.
Agregat-agregat sebaiknya disimpan ditempat yang bersih,
terpisah dari bahan konstruksi yang lain dan kering. Jika tempat
penyimpanan basah, maka jumlah air yang diperlukan untuk
campuran perlu dikoreksi.
Ø Bahan Tambahan
Bahan tambah atau admixture adalah
bahan-bahan yang ditambahkan pada kedalam campuran beton pada saat atau selama
pencampuran berlangsung, bahan tambahan ini berfungsi untuk memenuhi kecocokan
beton untuk pekerjaan tertentu dalam hal mengubah sifat-sifat, menghemat biaya
dan waktu.
Bahan tambahan ini dapat berupa mineral
admixture seperti silica fume, Fly ash sebagai bahan ppemcampur semen, dan
bahan tambahan berupa chemical admixture seperti Plastisizer, Retarder sebagai
bahan pemcampur beton.
Beton memiliki kelebihan yakni dapat dibentuk dengan
mudah sesuai dengan kebutuhan konstruksi, mampu memikul beban berat, tahan
terhadap temperatur tinggi serta memiliki biaya pemeliharaan yang kecil.
Sedang
kelebihan, beton juga memiliki kekurangan, adapun kekurangan dari beton itu
sendiri adalah bentuk yang telah dibuat sulit untuk diubah, pelaksanaan
pembuatannya membutuhkan ketelitian yang tinggi, berat dan memiliki daya pantul
suara yang besar.
Kuat tekan beton tergantung dari mutu beton yang dibuat,
pembuatan beton ini disesuaikan dengan kekuatan struktur yang dikehendaki.
Adapun faktor
–faktor yang mempengaruhi dari kekuatan tekan beton adalah : bahan-bahan
penyusun beton yang digunakan, metode pencampuran, pemeliharaannya, serta
keadaan pada saat beton dibuat.
C. Pengerjaan Beton
Adapun proses pengerjaan beton adalah :
Ø Persiapan
Sebelum
penuangan beton maka hal pertama yang diperhatikan
· Semua
peralatan harus bersih
· Ruang yang
akan diisi beton harus bersih
· Pasangan
dinding yang berhubungan langsung dengan beton harus di basahi dengan air
sampai jenuh
· Semua kotoran
dan serpihan beton atau bahan-bahan lainnya harus dibersihkan karena akan
mempengaruhi lekatan beton
Ø Penakaran
Beton yang memiliki kuat tekan lebih besar atau sama
dengan 20 MPa, proporsi penakarannya didasarkan pada atas penakaran berat,
sedang untuk untuk beton yang memiliki kuat tekan lebih kecil dari 20 MPa maka
proporsi penakarannya boleh menggunakan penakaran volume.
Ø Pengadukan (Pencampuran)
Pengadukan dapat dilakukan dengan cara manual maupun
dengan menggunakan mesin. Dan pengadukan
ini dilakukan sampai didapatkan suatu sifat yang palstis dalam campuran beton
segar. Indikasinya dapat dilihat dari warna adukan yang merata, kelecakan yang cukup dan tampak homongen.
Selama proses pengadukan harus dilakukan pendataan
rinci mengenai jumlah batch aduk yang dihasilkan, proporsi material, perkiraan
lokasi dari penuangan akhir pada struktur dan waktu dan tanggal pengadukan
serta penuanagan.
Ø Penuangan adukan
Dalam hal penuangan adukan ada beberapa hal yang mesti
diperhatikan yakni :
· Campuran yang
akan dituangkan harus ditempatkan sedekat mungkin cetakan akhir untuk mencegaj
segresi
· Pembetonan
harus dilakukan dengan kecepatan penuangan yang diatur sehingga campuran beton
selalu dalam keadaan plastis.
· Campuran beton
yang setengah mengeras dan kotor tidak boleh dituangkan lagi
· Setelah penuangan beton dimulai, maka pelaksanaan
harus dilakukan tampa henti hingga diselasikan penuangan suatu panel atau
penampang yang dibentuk oleh batas-batas elemennya atau batas penghentian
penuangan yang sudah ditentukan.
· Beton yang
dituangkan harusdipadatkan dengan alat yang tepat secara sempurna dan harus
diusahakan secara maksimal agar dapat mengisi semua rongga beton.
Ø Pemadatan Beton
Pemadatan dilakukan setelah penuangan beton, kebutuhan
akan alat pemadat disesuaikan dengan kapasitas pengecoran dan tingkat kesulitan
pengerjaan dan pemadatan ini dilakukan sebelum terjadi setting time pada beton.
Ø Pekerjaan akhir
(finishing)
Pekerjaan finishing dilakukan untuk mendapatkan
kondisi permukaan beton yang rata dan mulus, pekerjaan ini dilakukan dengan
pada saat beton tercapai final setting karena pada masa ini beton masih bisa
dibentuk .
Ø Perawatan
beton (Curing)
Perawatan dilakukan agar proses hidrasi selanjutnya
tidak mengalami gangguan . jika hal ini terjadi maka beton akan mengalami
keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat.
Perawatan dilakukan minimal selama tujuh hari dan beton berkekuatan awal
tinggi minimal selama tiga hari serta harus dipertahankan dalam kondisi lembab
kecuali dilakukan dengan perawatan yang dipercepat.
D. Pengujian Beton
Setelah dilakukan pengerjaan beton maka dilakukan
tahapan pengujian beton, hal ini dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan
nilai kekuatan dari struktur yang direncanakan dan langkah perbaiakannya.
Pelaksanaan pengujian beton ini dilakukan dengan
pengambilan sampel dan secara umum di bagi menjadi tiga kegiatan yakni
pengambilan contoh dari bahan penyusun beton, pengambilan contoh pengujian
beton segar dan pengaruhnya nanti setelah beton mengeras, serta pengambilan
contoh setelah beton mengeras.
Kebutuhan akan beton semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya tuntutan dan kebutuhan akan infrastruktur baik itu gedung-gedung
bertingkat, jembatan, bendungan serta infrastruktur lainnya. Kemudahan akan
beton yang meningkat inipun dijawab dengan perkembangan teknologi beton itu
sendiri sehingga saat ini terdapat beberapa jenis beton yang tersedia sesuai
dengan kebutuhan peruntuntukan penggunaanya dengan segenap kelebihan dan
kekurangan yang melekat didalamnya.
E. Jenis-jenis Beton
Ø Beton Mutu Tinggi
Beton mutu tinggi merupakan hasil dari perkembang
teknologi beton dan akhirnya dapat memeperbaiki dan meningkatkan hamper semua
kinerja beton menjadi suatu material modern yang berkinerja tinggi. Kebutuhan
akan beton mutu tinggi semakin meningkat karena kebutuhan dan tuntutan akan
infrastruktur yang baik, kuat dan awet dengan
semakin meningkat. Hal ini dapat terlihat dari kebutuhan akan
gedung-gedung tinggi, jalan dan jembatan dengan bentang panjang dan lebar. Hal
ini tentunya harus didukung dengan ketersediaan beton mutu tinggi untuk
mendukung struktur dari bangunan infrastruktur tersebut.
Dengan beton mutu tinggi dimensi dari struktur dapat
diperkecil sehingga beban sturuktur menjadi lebih ringan, dengan beban struktur
yang lebih ringan maka beban yang diterima pondasi secara keseluruhan menjadi
lebih kecil. Hal ini tentunya memberikan keuntungan dari segi ekonomi serta
pemanfaatan ruangan pada suatu bangunan tinggi akan semakin maksimal karena
dimensi struktur kolom semakin kecil.
Sesuai dengan perkembangan teknologi beton yang
demikian pesat, kriteria dari mutu beton tinggi selalu berubah sesuai dengan tingkat
mutu yang dicapai. Pada tahun 1950an, beton dengan kuat tekan 30 MPa sudah
dikategorikan sebagai beton mutu tinggi, pada tahun 1960an hingga awal tahun
1970an, criteria lebih lazim adalah 40 MPa. Saat ini disebut mutu tinggi untuk
kuat tekan 50 MPa, dan 80 MPa sebagai beton mutu sangat tinggi, sedangkan 120
MPa dikategorikan sebagai beton bermutu ultra tinggi (Supartono, 1998).
Adapun faktor yang mempegaruhi kekuatan dan mutu beton
adalah :
· Faktor air
semen (Fas w/c) yang rendah
· Kualitas
agregat halus (Pasir)
· Kualitas
agregat kasar (Batu pecah,Koral)
· Penggunaan
admixture dan adiftif mineral yang tepat
· Prosedur yang
beenar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton
· Pengawasan
ddan pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur dan mutu pelaksanaan
yang didukung oleh koordinasi yang optimal
Untuk mendapatkan beton mutu tinggi maka diperlukan
penelitian terhadap bahan susun dengan kualitas baik, faktor air semen terhadap
kuat tekan beton, pengaruh modulus kehalusan agregat kasar terhadap kuat tekan
beton,serta penelitian pengaruh gradasi agregat kasar terhadap kuat tekan
beton.
Hasil dari penelitian Seperti yang diurai diatas akan
sangat berpegaruh pada hasil dari produkis beton mutu tinggi karena pada
dasarnya beton mutu tinggi dibuat dari bahan-bahan penyusun beton yang memiliki
kualitas yang sangat baik serta dibuat
dengan prosedur yang baik dengan pengawasan yang ketat pada segenap proses
produksi beton. Semakin baik bahan-bahan penyusun beton serta proses produksi
beton maka semakin bagus pula kualitas atau mutu dari suatu beton.
Ø Beton Pracetak
Pracetak dapat diartikan sebagai suatu proses produksi
elemen struktur arsitekturla pada suatu
tempat/lokasi yang berbeda dengan tempat/lokasi dimana elemen struktur
arsitektural tersebut akan digunakan. Teknologi pracetak ini dapat diterapkan
pada berbagai jenis material yang salah satunya adalah beton.
Beton pracetak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan
beton biasa pada umumnya, yang membedakan hanya pada proses produksinya dimana
lokasi pembuatanya berbeda dengan lokasi dimana elemen tersebut akan digunakan.
Pada umumnya penggunaan beton pracetak dianggap lebih
ekonomis dibandingkan dengan pengecoran ditempat dengan alasan mengurangi biaya
pemakaian bekisting, mereduksi upah kerja karena jumlah pekerja lebih sedikit,
meruduksi durasi pelaksanaan proyek sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi
lebih kecil, selain itu pengerjaan beton dipermukaan tanah jauh lebih mudah dan
aman untuk dilakukan, seperti persiapan cetakan, pengecoran, perapian permukaan,
perawatan dan penggunaan bekisting yang dapat berulang kali.
Adapun kelebihan atau keunggulan dari beton pracetak
ini adalah :
· Durasi proyek
menjadi lebih singkat
· Meruduksi
biaya konstruksi
· Kontinuitas
proses konstruksi dapat terjaga
· Produksi massal
· Mengurangi
biaya pengawasan
· Mengurangi
kebisingan
· Kualitas beton
lebih baik
· Pelaksanaan
konstruksi hamper tidak terpengaruh dari kondisi cuaca
Selain kelebihan, beton pra cetak juga memiliki
beberapa kelemahan, adapun kelemahan dari beton pracetak ini adalah :
· Transportasi
(Pemindahan betook pracetak dari lokasi produksi ke lokasi pekerjaan
membutuhkan alayt transportasi sehingga membutuhkan biaya tambahan)
· Erection ( Erection
merupakan tahap penyatuan dari elemen beton pracetak menjadi satu kesatuan yang
utuh sehingga menjadi sebuah bangunan. Proses ini membutuhkan alat bantu
instalasi dan penyediaan alat ini membutuhkan biaya tambahan yang cukup besar)
· Connection (
dalam usaha menyatukan elemen-elemen beton pracetak dibutuhkan konstruksi
tambahan yang mampu meneruskan gaya-gaya yang bekerja dalam elemen dan proses
ini juga membutuhkan alat yang betul-betul bagus dan dan membutuhkan biaya yang
relative mahal)
Dalam hal pengaplikasian metode beton pracetak, kunci
keberhasilan pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusi dalam
proses dan manajemen maupun pelaksanaan dilapangan. Adapun beberapa faktor dari
aspek manajemen yang harus diperhatikan adalah : teknologi, bahan, sumber daya
manusia, perencanaan, logistik, produksi, pengangkutan dan distribusi,serta
instalasi dan perbaikan.
Ø Beton Serat
Beton
Serat (Fiber Reinforced Concrete) adalah beton yang materialnya ditambah dengan komponen serat
yang bisa berupa serat baja, plastik, glass ataupun serabut dari bahan alami.
Walaupun
serat dalam campuran tidak terlalu banyak meningkatkan kekuatan beton terhadap
gaya tarik, perilaku struktur beton tetap semakin baik misalnya meningkatkan
regangan yang dicapai sebelum runtuh, meningkatkan ketahanan beton terhadap
benturan dan menambah kerasnya beton.
Lembaran serat semen atau lebih dikenal dengan
eternity adalah suatu campuran serat tumbuh-tumbuhan dan semen Portland atau
semen sejenis ditambah air tampa atau dengan bahan tambahan lainnya.
Adapun syarat mutu yang harus dipenuhi oleh serat semen adalah :
· Lembaran serat
semen harus mempunyai tepi potongan yang lurus, rata dan tidak mengkerut,sama
tebalnya, bersuara nyaring jika disentuh dengan benda keras yang menunjukkan
bahwa lembaran serat tidak mudah pecah atau retak
· Lembaran mudah
dipotong – potong tampa terjadinya keretakan pada lembaran serat
Ø Beton Ringan
Beton
ringan adalah beton yang memiliki berat jenis (density) lebih ringan
daripada beton pada umumnya. Beton ringan dapat dibuat dengan berbagai cara,
antara lain dengan: menggunakan agregat ringan (fly ash, batu apung, expanded
polystyrene – EPS, dll), campuran antara semen; silika; pozollan; dll
(dikenal dengan nama aerated concrete) atau semen dengan cairan kimia
penghasil gelembung udara (dikenal dengan nama foamed concrete atau cellular
concrete). Keuntungan lain dari beton ringan antara lain:
·
Memiliki
nilai tahanan panas (thermal insulation) yang baik
·
Memiliki
tahanan suara (peredaman) yang baik
·
Tahan
api (fire resistant)
·
Transportasi
mudah
·
Dapat
mengurangi kebutuhan bekisting (formwok) dan perancah (scaffolding)
Kelemahan beton ringan adalah nilai
kuat tekannya (compressive strength) terbatas, sehingga sangat tidak
dianjurkan penggunaan untuk perkuatan (struktural). Beton ringan saat ini
banyak diaplikasikan dalam proyek berupa dinding, clanding, ornamen bangunan,
dan material pengisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar